talk is cheap
Siapapun yang pernah atau sedang tinggal di Jepang, kemungkinan besar setuju bahwa orang Jepang benar-benar melakukan segala sesuatu dengan berbeda. Terasa seperti ada di planet lain. My point is, they don’t even have the Oprah show. ^ ^
Kalau sering pindah, otak dan hati jadi punya fungsi otomatis untuk mencari tempat yang bisa disebut ‘rumah’. Buka mata, buka telinga, buka hati, buka pikiran, mendeteksi apakah kali ini kita akan jatuh cinta dan menetap.
Perasaan itu susah didapat di Jepang, tidak ada hal yang bisa dibenci tentang Jepang, tapi tidak ada hal juga yang bisa dicintai tentang Jepang.
Akhirnya, saya jadi cinta Jepang karena tidak ada yang bisa dibenci dan jadi benci Jepang karena tidak ada hal yang bisa dicintai.
Seperti kata orang, garis batasnya tipis.
Penyebabnya bisa banyak; cultural barrier, language difficulties, subjective opinion, …, semua bisa disebut.
Tapi, sesederhana karena membenci itu tidak baik untuk kesehatan, kita lihat saja cara-cara Jepang yang bisa dikagumi:
Orang Jepang mengerti benar pentingnya pendidikan, mereka habiskan anggaran mereka di sini, lalu bukannya melihat itu sebagai ‘pengeluaran’, di anggaran negara, mereka cantumkan jumlah uang yang dikeluarkan untuk pendidikan sebagai ‘asset’.
Pertanyaan pertama emperor setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom nuklir adalah "Ada berapa orang guru yang tersisa?"
Acara berita di Jepang tidak monoton soal kejahatan dan perang. Jangan salah, kejahatan cukup banyak terjadi dan mereka sedang perang dingin dengan Korea Utara. Tapi acara beritanya tidak lupa menyelipkan beberapa berita bahagia, sesederhana apapun berita itu, hanya untuk mengingatkan bahwa masih banyak kebaikan di dunia.
Yang ketiga, lingkungan. Memang Jepang masih dikecam di sana-sini soal illegal whale hunting, mereka juga konsumen kayu terbesar (Indonesia salah satu major suppliernya) dan seperti penyakit semua negara industri lain, Jepang bisa disalahkan soal global warming karena polusi udara dari emisi pabrik2nya.
Soal bencana alam, resiko mereka tidak beda jauh dari Indonesia juga; tsunami, gempa dan longsor. Yang beda, usaha untuk meminimalisasi dampak bencananya. Misalnya: cara berpikir orang Jepang tentang mana yang sampah dan mana yang sebenarnya bukan sampah, orang yang jalan sambil memunguti sampah2 kecil di trotoar adalah pemandangan biasa (dia bukan pemulung ataupun tukang sampah), daripada membangun rumah yang besar2 mereka lebih pilih taman2 di tengah kota, dan anak umur 5 tahun pun mengerti apa yang harus dia lakukan di saat gempa.
Yang terakhir, masa lalu Jepang tidak indah ataupun bisa dibanggakan. Mereka banyak melakukan kesalahan dan pasti karena belajar dari kesalahan itu, mereka bisa tumbuh seperti sekarang.
Maksud saya, mungkin kita perlu memberi Indonesia sedikit waktu.
Dampak yang paling parah dari banjir di Jakarta yang baru terjadi ini - selain korban yang meninggal -, adalah reaksi kita. Kebanyakan menyalahkan pemerintah dan ada juga yang lebih luar biasa, dengan ‘pintar’nya berkata "orang Jakarta sombong sih, makanya….".
Memang curah hujan berlebihan, memang Jakarta perlu lebih banyak daerah hijau dan memang kita perlu banyak mengubah perilaku kita soal sampah dan lingkungan.
Tapi mungkin, daripada terus menerus mengkritik orang2 yang kita anggap bertanggung jawab tentang kejelekan Indonesia (presiden, pemerintah, dsb), mungkin sebaiknya kita yang berbuat sesuatu,
karena ini Indonesia kita, bukan hanya Indonesianya pemerintah.
atau setidaknya, lebih baik diam dan mengagumi keindahan yang dimiliki Indonesia kita.
*work hard play hard!


Leave a Reply