Pengemis di Antara Pengemis
Sumber : Rahman Arge, Fajar Online Makassar, 06 Jun 2007.
Berbulan-bulan di Jakarta, saya kini ada di Makassar. Pagi-pagi, berdiri seorang perempuan tua di depan rumah saya. Ia memakai sarung plekat kumal, kebaya rombeng, dengan kain kerudung yang nampak sudah lama tak kenal sabun. Sebenarnya, perempuan ini belum tua betul. Wajahnya memberitakan sisa-sisa kemudaan, yang mungkin sudah lama dirampas oleh kemiskinan dan penderitaan. Ia tidak berkata-kata. Tapi sorot matanya berbicara tentang betapa ia butuh sesuatu dari saya.
Tamu-tamu yang saya terima di ruang tamu, saya biarkan menunggu. Sebab bagi saya, ibu yang sedang mengharap sesuatu dari saya, adalah tamu amat terhormat. Almarhum ibu kandung saya selalu berpesan: "Pertama-tama sedekahkan hatimu pada orang yang susah. Beri ia senyum, beri ia keramahan sebelum engkau memberinya sesen-dua-sen!"
Pesan ibu saya itu, hidup dalam batin saya, melalui pembiasa-an diri. Sehingga, bagaimanapun sibuknya saya dengan tetamu, dengan urusan profesi dan karir, berkat pembiasaan-diri itu, mengutamakan pelayanan kepada orang susah. Apalagi jika kebutuhannya mendesak.
Orang sibuk tanpa "hati", mungkin akan memberi orang susah itu "uang". Lalu segera menghalau orang itu. Ia mungkin jengkel dan berkata: "Nah, ambil ini! Dan segera pergi! Pergi! Nah lihat, saya ini sibuk? Haa! " Sang pengemis menerima uang sekadarnya itu, tapi berapa banyak "luka" yang kita goreskan di hati dia? Saat itu, sebenarnya kita telah merampas dari cadangan-harga-diri Si Pengemis melalui pisau-belati lidah kita. Tapi ya, ini memang pembawaan dan sikap-hidup masing-masing orang.
"Tinggal di mana, Bu?" tanya saya pada ibu yang susah itu. "Di Kalukubodoa." jawabnya singkat. "Suami ibu dan anak-anak, dimana?" Dan ia jawab: "Saya janda. Anak tak ada. Suami meninggal. Saya menumpang di bawah kolong rumah orang."
Saya masuk rumah, menyuruh cucu saya yang sudah gadis. Menyiapkan sarung bekas dan baju-baju perempuan. "Ini, kek." Saya bilang sama Si Cucu, serahkan sendiri sama ibu ini. Ini adegan pembiasaan-diri kepada anak dan cucu. "Biasakan memberi", kata saya kepada Cucu, sambil saya mengulangi pesan filosofis almarhum ibu saya: "Memberilah, wahai anakku, karena semakin engkau memberi semakin engkau penuh!"
Saya melirik kepada para tamu saya. Dan saya lihat mereka sudah kesal menanti selesainya kesibukan "remeh-temeh" saya melayani pengemis tua itu.
Perempuan susah itu menerima pemberian cucu saya sambil memeluk bungkusan itu bagaikan memeluk bayi kandungnya. Saya sendiri memberinya uang. Dan isteri saya muncul, memberinya seliter beras. Tiba-tiba ibu pengemis itu terduduk di tanah. Ia menangis. Tanah ini, bumi kita pemberian Tuhan, yang merupakan hak semua kita, dia cium, sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ciumannya kepada tanah, seakan langsung ditujukan kepada Tuhan, mensyukuri pembelaan-Nya seperti yang dijanjikan-Nya terhadap orang-orang susah dan miskin.
******
Pembaca, itu sekadar peristiwa kecil yang remeh. Antara pengemis dan kita yang hidupnya agak "lebih". Saya pun bertanya: "Siapakah pengemis di antara saya dan keluarga, dengan pengemis itu?" Paling-paling nilai nominal yang saya berikan kepada pengemis itu, jumlahnya cuma 25-ribuan rupiah. Tapi saya sekeluarga, ber-bahagia sejuta-juta rupiah. Jadi yang "mengemis" itu saya. Saya mengemis dari Pengemis. Mengemis "harga Intrinsik" KEBAHAGIAAN.
*be the love generation

Leave a Reply