Taraf Hidup
Mungkin sebagian besar sudah dengar, sekarang saya kuliah tentang kehutanan, tepatnya, “erosion control”. Studi tentang environment memang sudah cukup lama jadi obsesi, dan ternyata kalau mengerjakan sesuatu yang memang disukai, hidup jadi mudah rasanya.
Sesuai plat namanya, kami berusaha belajar cara mengontrol erosi, baik itu tanah longsor skala besar yang “gubrak” sekali jatuh memakan korban banyak, atau erosi permukaan tanah saja yang merangkak turun perlahan-lahan tapi sama berbahayanya untuk ekosistem.
Banyak yang bereaksi, “ngontrol erosi kok susah, tanam pohon yang banyak aja kan ye”
Well, setengah benar. Tapi kalau mau memberikan solusi seperti itu, kami harus menjelaskan pohon apa, apakah pohon pinus lebih bagus daripada pohon ek? lalu pohon-pohon itu harus ditanam dengan jarak seberapa supaya efeknya maksimal? Dan harus ditutup dengan kesimpulan kapan efeknya bisa terlihat.
Lagipula, solusi “tanam pohon” cuma bisa berlaku di daerah yang hujannya banyak.
Topik yang saya pilih untuk kuliah di Jepang saya bawa dari kampung halaman. Gunung Bawakaraeng (60 kilometer dari kota Makassar), runtuh 5 tahun lalu (26 Maret 2004).
(ki-ka: Gunung Bawakaraeng sebelum dan setelah runtuh)
Walaupun yang meninggal ‘hanya’ 30 orang, runtuh ini termasuk bencana terbesar di Indonesia. Kenapa?
Karena bagian runtuhan tanah itu totalnya 232 juta m3. Saya sendiri belum bisa membayangkan besarnya seberapa,
kata orang yang sense of sizing nya lebih baik daripada saya, itu sekitar 5 tokyo dome terisi penuh dengan tanah. Nah, 232 juta m3 tanah itu berguling menyapu habis desa Lengkese dan akhirnya berhenti di atas sungai Jeneberang.
Sungai Jeneberang adalah salah satu sungai utama di daerah Sulawesi Selatan, sungai ini membawa air ke kota Makassar tercintaku, melalui Bili-bili Dam.
Sudah bisa diduga, setiap musim hujan, tanah longsor yang di atas terbawa masuk ke dalam dam, alhasil dam nya jadi penuh tanah, supply air jadi tersendat, usia Dam jadi berkurang, padahal Dam itu utangannya (sekitar 30 milyar yen) pun belum lunas.
Sekarang pemerintah harus pinjam uang lagi untuk konstruksi macam-macam bendungan penahan tanah.
(Air Dam Bili-bili Setelah Longsor,2007)
Begitulah garis besar lingkungan di sekitar Dam Bili-bili sekarang. Masih banyak lagi cerita demi cerita yang menstimulasi interest dan sakit kepala. Tapi untuk saat ini, saya tidak boleh banyak opini dan bercuap-cuap tanpa pondasi. Karena studi saya termasuk exact science, saya jadi berkutat di rumus-rumus hidrologi untuk menjelaskan dampak runtuhnya gunung itu pada karakter sungai. Sebenarnya, aslinya saya sering gatal mencari informasi lain yang lebih ke masalah sosial.
Setahun dua kali saya pulang kampung meninjau lokasi, membuat koneksi supaya supply data lancar. Kadang-kadang dalam data yang saya terima, ada informasi tentang orang-orang di sekitar pemukiman; tentang orang yang dulunya petani dan sekarang jadi penambang pasir, tentang PT. Bosowa yang aktif mengambil tanah dari dalam dam, kliping surat kabar tentang banyaknya mobil-mobil konstruksi yang tidak mengikuti peraturan lalu lintas, dan sebagainya. Tapi hal menarik yang terakhir menangkap mata saya adalah survei taraf hidup warga desa sekitar gunung Bawakaraeng.
Survei ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran warga tentang cara evakuasi kalau ada longsor susulan, disebarkan oleh organisasi SABO dan kantor PU (Pemerintah Umum).
Seperti orang bilang, beauty is relative but ugliness is absolute.
Bicara taraf hidup juga relatif. Kalau ikut standardnya UN, orang yang penghasilannya di bawah US$2 adalah orang miskin, atau istilahnya “below poverty level”. Kalau ikut standard teman-teman (iya, kamu) yang punya 2 hp dan bawa mobil sendiri, saya termasuk miskin karena cuma punya 1 hp dan naik sepeda jengki ke kampus. Kalau ikut standard orang Jakarta, Makassar termasuk miskin karena cuma punya 2 mall.
Semua standard yang bisa kita bayangkan di hidup sehari-hari kita, tidak berlaku untuk mengukur taraf hidup orang-orang di desa-desa ini.
Di desa Batumenteng, Limbua, Gamissang, Jannaka, dan beberapa desa lainnya di sekitar Gunung Bawakaraeng, ini cara klasifikasi survei taraf hidup:
|
Indikator |
Kaya |
Sedang |
Miskin |
|
Rumah -Atap -Dinding -Lantai -WC |
Batu Seng/Tegel Batu Tegel Ada |
Kayu Seng Papan/tembok Papan/Semen Ada |
Bambu Seng bekas Gamacca Tanah Tidak ada |
|
Fasilitas Televisi Radio Listrik |
Ada/Lengkap TV Warna Radio Tape Ada |
Kurang TV Hitam Putih Radio Baterai Ada |
Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada |
|
Pendapatan (Rp /bulan) |
800,000 ke atas |
400,000 – 750,000 |
150,000 – 300, 000 |
|
Pendidikan |
SMP/SMU ke atas |
SD / SMP |
Tidak sekolah /SD |
|
Kepemilikan Lahan |
1 hektar ke atas |
10 are – 1 hektar |
0 – 5 are |
|
Kepemilikan Ternak |
5 ekor sapi atau lebih |
2-4 ekor sapi |
Ayam 1 ekor sapi |
|
Kepemilikan Kendaraan |
mobil |
motor |
Tidak ada |
|
Kesehatan |
Puskesmas/ rumah sakit/ dokter |
Pustu/ mantra kesehatan |
Sanro/ dukun |
|
Pola Makan |
Tiga kali sehari Beras.daging |
Dua kali sehari Beras/jagung, Ikan bolu |
Dua kali sehari Beras/Jagung Ikan teri dan daun singkong |
|
Status Rumah |
Milik sendiri |
Menumpang |
Tidak ada |
Menurut UN sih, semua yang di atas adalah “miskin”, tapi bagi daerah itu, kalau anda punya 5 ekor sapi, makan tiga kali sehari dan pergi ke dokter kalau sakit, itu sudah termasuk kaya. Kalau cuma punya beberapa ekor ayam, punya dukun langganan atau harus pergi ke rumah tetangga untuk pinjam WC, itu baru miskin.
****
Ada banyak informasi tentang Bawakaraeng dan Bili-bili Dam, tapi sebaiknya mulai dari artikel ini : http://www.sabo-int.org/case/bawakaraeng.pdf




saya punya seorang teman yang berasal dari makassar. Kebetulan ketemu ketika saya melakukan reli pendakian solo, menjadi teman bercerita di jalan. Dia bercerita tentang Bawakaraeng yang terkenal di tempatnya. Salah satunya tentang “naik haji” ala bawakaraeng. Yang saya rasa aneh disini adalah, jumlah orang yang “naik haji” disana menurut teman saya jumlahnya lumayan sekali, akan tetapi mengapa potensi yang eksploitasi malah SDAnya ? Ekowisata ?
Dalam beberapa percakapan teman saya mengatakan bahwa bagi masyarakat gunung bawakaraeng sama dengan Mekkah ( sucinya! ). Apakah memang telah terjadi pergeseran nilai2 sosial disana sehingga tempat suci yang seharusnya dijaga secara turun temurun menjadi dieksploitasi…..hukum adat akan lebih ditaati oleh masyarakat dibandingkan hukum negara.
yah,,,,semakin menarik hati saja bawa karaeng !! Someday, ri……puncaknya akan saya selingkuhi !
koko guanteng poll said this on November 27, 2008 at 7:14 am
oh my … you’re still able to speak indo language so well….
kudos!
ciyeng said this on November 27, 2008 at 12:12 pm
@koko: iyah, someday ko, harus naik bawakaraeng..skarang mungkin akses di kaki gunung masih sulit.
soal eksploitasi, aku ga yakin yg kamu maksud eksploitasi apa? bawakaraeng runtuh bukan karena penebangan hutan, menurut research, daerah yg runtuh adalah tembok kalderanya, karena hujan keras dan batu kaldera itu sudah lemah.
kalo soal pt.bosowa menambang tanah dari dalam dam, memang itu diperlukan karena sejak longsor, banyak tanah mengalir masuk dlm dam. (walopun prosedur pengambilan tanahnya kurang terorganisir)
dhanio said this on November 27, 2008 at 7:33 pm
@ciyeng: hehehe i struggled a bit, u know.
dhanio said this on November 27, 2008 at 7:34 pm
I’ve never heard of that mountain before….but everytime there’s a “lost” mountain, especially of natural occurrence, the memory of Mount St. Helens comes to mind. Not a pretty sight.
DimDim said this on December 1, 2008 at 6:41 am
tapi ri…
aku masih belum nangkap..
ada ga hubungan secara langsung antara
taraf hidup sosial msyrktnya dnegan erosi?
chicha said this on December 15, 2008 at 11:37 am
well klo diliat sih kayanya mau ngomongin taraf hidup lewat contoh runtuhnya gunung yg nimpuk tu desa
but i get the whole point sih…
en ada 1 lg ri, ini contoh nyata di daerah kos sini:
klo punya hp butut 1, naek mobil benz, sepeda motor tiger, makan 2x sehari: nasi ama krupuk, n suka ngutang –> PELIT!
siethology said this on December 20, 2008 at 6:11 am
@chicha: well cha, taraf hidup salah satu hasilnya social survey.social survey itu standard procedure kalo mau research/konstruksi daerah disaster. misalnya, di Jepang kalo mau ada pengumuman taifun, cukup dari tv, atau malah ada live satellite weather tv dimana2. tapi di desa di indo yg listrik aja ga ada kan ga bisa. atau ga ada gunanya nyebarin brosur ttg cara evakuasi kalo kebanyakan penduduknya ga lulus sd atau ga bisa membaca.
@yoko: hehehe kalo mau beli benz harus pelit?
dhanio said this on February 11, 2009 at 12:28 am